Kamis, 26 Maret 2015

Penjelajah Peradaban

Sajak: Penjelajah Peradaban
Karya: Heru Prasetio


Nikmat, Anugerah, Jejak, Tapak
Semua tersurat dalam Kalimat-Nya


***
Ayo, Langkahkan terus wahai kakimu!
Dialah yang menjadikan bumi
Untuk kami yang mudah dijelajahi

Melintasi tanah 7 Benua
Mengarungi air 7 Samudera
Terbang menembus 7 lapis Langit
Tubuh gemetar seketika
Menengok seni indah Cipta Kuasa
Maka berjalanlah dari segala penjurunya


***
Ayo, Kembangkanlah sayap wanderlustmu!
Dialah yang menjadikan bumi
Untuk kami yang mudah dijelajahi

Merasakan sejuknya Pegunungan Alpen
Tersenyum mengigil dinginnya Antartika
Bermandikan matahari Hawai dan Bali
Menyelami berlian perairan Raja Ampat
Panas menyengat Gurun Sahara tak jadi kendala

Mulut bertasbih gerak terkombinasi 
Alam terkembang hamba berdatangan
Dan Makanlah sebagian dari Rezeki-nya


***
Ayo, cengkram kuat wahai tanganmu!
Dialah yang menjadikan bumi 
Untuk kami yang mudah dijelajahi

Hilangnya Atlantis penuh misteri
Bahaya bergetar Bermuda Segitiga
Hancurnya peradaban kota lampau
Bangunan kuno meronta memanggil 
Mencekik daya pikat pengembaraan
Tak akan berhenti mengeksplore diri

Mengangumi ayat yang tersirat
Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi
Mencari sebagian Karunia-Nya
Jangan berhenti sampai detik tak berdetak


***
Penjelajah peradaban lahir
Penjelajah peradaban hidup
Penjelajah peradaban menjelajah
Penjelajah peradaban beribadah
Penjelajah peradaban merajalela
Dan Akhirnya,
Penjelajah peradaban mati


Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan

Dunia Dalam Kaca

Sajak: Dunia Dalam Kaca
Karya: Heru Prasetio

Kita ini hidup dalam kaca

Bila mana baik ubah buruk
Bila mana buruk ubah baik
Hukum hanya figuran
Kita ini hidup dalam kaca
Penjahat berat sanksi ringan
Penjahat ringan sanksi berat
Hukum terbalik memusingkan
Kita ini hidup dalam kaca
Ketika luar dipandang dalam
Ketika dalam dipandang luar
Hukum seakan tak peduli
Kita ini hidup dalam kaca
Belaka nafsu jadi acuan
Nurani hati pula terbaikan
Hukum terbuai pandang acuan
Kita ini hidup dalam kaca
Raksasa kapitalisme menguasai
Kerdil kerakyaktan terkucilkan
Ekonomi hanya figuran
Kita ini hidup dalam kaca
Yang besar semakin besar
Yang kecil semakin kecil
Ekonomi terbalik memusingkan
Kita ini hidup dalam kaca
Liberal harga menguasai
Mencekik rakyat harga melangit
Ekonomi seakan tak peduli
Kita ini hidup dalam kaca
Asing berkuasa menghancurkan
Lokal tertindas dihancurkan
Ekonomi terbuai pandang acuan
Kita ini hidup dalam kaca
Adab salah dicontohkan
Adab benar dipergunjingkan
Sosial hanya figuran
Kita ini hidup dalam kaca
Orang kecil jadi besar
Orang besar jadi kecil
Sosial terbalik memusingkan
Kita ini hidup dalam kaca
Media liput hal menghebohkan
Media diam hal terpentingkan
Sosial seakan tak peduli
Kita ini hidup dalam kaca
Bejat mental petinggi bidak
Bagus hidup pendiam kritik
Sosial terbuai pandang acuan
Kita ini hidup dalam kaca
Tak bertahan lebih lama
Bila kata tuhan bertahta
Retak kaca lenyap semua
Sebuah ironi, dunia dalam kaca
*selesai*

Terasering

Karya: Heru Prasetio

Aku berdiri tegar di atas bukit Ampang. Mendengarkan lantunan lagu dari penyanyi-penyanyi tanah kelahiran di negeri orang. Sumber lagu berasal dari tape radio yang diputar berulang di kedai-kedai makanan di pinggir jalan bukit Ampang dengan pemandangan malam kota Kuala Lumpur dari ketinggian. Aku pasrah. Aku lelah. Aku menyerah. Aku bodoh. Aku selalu berharap dia ada di sisiku. Menemani hari-hari yang indah bersamanya. Merajut cinta kasih dengan benang-benang asmara tanpa ada garis yang membatasi.

Masih di sini, aku masih setia memandangi hutan beton ibu kota negeri jiran. Menyelami kisah klise antara aku dan dia. Berusaha mengubur setiap kenangan yang ada. Tapi apa lacur, bayang-bayangnya selalu muncul membuka tabir peristiwa masa lalu.

***
Dua tahun yang lalu di Kuala Lumpur Center, aku bertemu dengannya. Dia jauh-jauh dari Nilai menjemputku. Aku sangat ingin berjumpa dengannya. Meskipun dulu cinta kami sebatas dunia maya. Cinta layar kaca yang berubah menjadi layar nyata. Kami berjabat tangan. Senyum manis membingkai wajahnya saat pertama kali kami jumpa. Wajahnya persis dengan foto yang sering ku lihat di media sosial.

"Hallo Zaky, apa kabar? Lama tak awak menungguku?"

"Ga apa-apa Zahra, hampir se-jam sih," aku menggaruk kepala yang tidak gatal.

"Jom ikut aku, kita ke mesin ticket LRT,"

"Okay Zahra, dengan senang hati," aku berusaha memberikan senyum terbaikku untuknya.

Zahra sangat baik. Dia mengajariku untuk membeli token LRT di mesin token. Tangan halusnya memanduku untuk memilih jalur dari KL Center ke University Malaysia. Token LRT yang bentuknya mirip uang logam warna biru dari bahan plastik keluar dari mesin. Kami melanjutkan perjalanan. Aku sangat terkesima dengan kemajuan kota Kuala Lumpur. Sistem Transportasinya terintegrasi sempurna antara satu dengan lainnya. Mulai dari LRT, KRL, Bus, Monorel, dan Train, semua bertemu dan transit di KL Center. Wajar saja wisata di Kuala Lumpur maju. Para pelancong tak perlu risau untuk berpergian dengan transportasi umum selama berada di kota ini. Murah, nyaman dan menyatukan semua tempat wisata.

"Zaky, mau ke KLCC dulu tak?" Lamunanku dikejutkan suara Zahra.

"Mau ra, aku juga ingin tengok Petronas,"

Sebelum ke University, kami menyempatkan diri untuk ke KLCC. Di KLCC terdapat icon negara ini, Menara Kembar Petronas. Aku sangat takjub dengan kemegahan dan keindahan salah satu menara tertinggi di dunia ini. Bentuknya mirip atau mungkin diadaptasi dari candi Prambanan. Entahlah. Setelah puas keliling dan berfoto serta menyaksikan pertunjukan air mancur di KLCC, kami kembali naik LRT menuju University Malaysia.

"Thank's banget Zahra udah menemaniku sepanjang hari ini,"

"Sama-sama Zaky, bila waktu mengizinkan kita boleh pusing-pusing Kuala Lumpur balik,"

***
Aku masih memandangi kota Kuala Lumpur dari ketinggian. Bulan purnama bulat sempurna menggantung di atas langit.

*bersambung*