Rabu, 31 Desember 2014

Pelangi 13

Karya: Heru Prasetio

"Pelangi-pelangi alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru, pelukis mu agung, siapa gerangan, pelangi-pelangi ciptaan tuhan"

Senja berbuih, gerimis tak kunjung henti dan Gery masih menyanyikan lagu pelangi berulang kali. Tatapan matanya kosong memandang keluar jalan besar dari jendela kaca berembun dengan tetesan air hujan yang menempel. Semenjak kejadian itu, Gery trauma berat, dia didiaknosa mengalami gangguan mental.

***
Minggu Pagi diawal bulan februari 2011, gerimis membungkus kota, keluarga pak Wisnu kedatangan tetangga baru. Sepasang suami istri dengan usia pernikahan yang telah menginjak lima tahun. Mereka belum dikaruniai anak. Suami bekerja sebagai karyawan swasta sedangkan Istri bekerja sebagai guru TK. Rumah yang mereka sewa tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Semua jendela terbuat dari kaca tebal yang berlindung dibalik terali besi dengan motif bunga matahari.

***

"Ih, lucu sekali ini anak, nama kamu siapa sayang? Istri tetangga mencubit pipi Gery.

"Gery tante, namaku Gery, nama tante siapa? Nama Oom siapa?"

"Nama Saya tante Vila adik kecil," Jawab sang stri, lalu mencubit kembali pipi Gery.

"Kalo nama saya, Om Agung," jawab suami.

"Anaknya pintar yah mas?"

"Iya, pintar, lucu, ganteng, imut dan sopan lagi. Andai kita punya anak. Pasti seumuran dengan Gery," ata Om Agung.

"Gak usah dibahas itu mas. Aku capek, aku menyerah, aku salah, aku bodoh, aku gak becus jadi istri. Mungkin tuhan menyuruh kita sabar mas," nada tante Vila terdengar sedih, bibirnya cemberut dan muka menekuk berusaha tegar dengan semua ini.

"Sudah-sudah jangan ribut di rumah saya," Tegur pak Wisnu.

"Ayo, diminum tehnya dik Vila dan dik Agung. Dicicipi pisang gorengnya" sahut bu Risha, istri pak Wisnu.

"Eh, maaf pak Wisnu, bu Risha kami ga bermaksud ribut di sini," tante Vila berusaha menjelaskan.

"Iya, sekali lagi kami mohon maaf," pinta om Agung.

"Iya, iya. Kami paham, suatu saat kalian pasti akan dikaruniai anak juga. Percayalah, tuhan maha baik," pak wisnu berusaha menenangkan mereka.

Setelah perbincangan yang penuh basa-basi, tante Vila dan om Agung pulang ke rumah kontrakannya, menyusun rencana ke depan agar mereka bisa mendapatkan momongan

***
Hampir sebulan mereka mengontrak, sama sekali tidak ada hal yang mencurigakan dari mereka. Semua berjalan dengan biasa-biasa saja. Tante Vila mengajar, om Agung bekerja dan Gery naik kelas TK nol besar.

Hal yang paling menyenangkan bagi tante Vila adalah dapat bertemu anak-anak setiap hari. Walaupun mereka bukan darah dagingnnya, tapi tante Vila sangat menyayangi mereka semua. Tante Vila kini mengajar di TK Pelangi. Kebetulan Gery juga sekolah TK nol besar di sana. Tante Vila sangat baik kepada Gery. Waktu pergi dan pulang sekolah Tante Vila selalu mengajak Gery untuk ikut naik mobilnya dan orang tua Gery pun tidak keberatan.

***

"Gery senang sekali dengan tante, beliin Gery mainan, robot-robotan, bola, ngajari nyanyi lagu Pelangi-Pelangi, bolak-balik sekolah selalu bareng tante, Gery sayang tante Vila," spontan Gery memeluk tante Vila.

"Tante Vila juga senang nak, saya sudah seperti Ibumu. Sayang juga Gery, malaikat kecil tante," tangan Tante Vila mencubit gemas hidung mancung Gery.

"Tante, Gery mau tante nyanyi lagu pelangi-pelangi dong buat Gery. Kan pas banget gitu suasananya lagi hujan gerimis, aku selalu melihat pelangi setelah gerimis reda di sore hari," Gery berceloteh lagi.

Hujan gerimis reda, pelangi muncul di kaki langit sebelah tenggara. Lagu Pelangi-pelangi mulai mereka nyanyikan.

***
Bersambung

Lepasnya Pelepah Pinang

Karya: Heru Prasetio

Musim kemarau memasuki puncaknya. Rumput-rumput terlihat menguning di sepanjang jalan menuju sawah besar. Silau kuning matahari seakan membakar kulit. Keringat peluh pencari ikan mulai bercucuran, membasahi baju partai lusuh bekas kongsi pemilu dua bulan lalu. Rawa-rawa kini berisikan lumpur hitam lunak lagi lumer bercampur dengan air sawah yang kini menjadi habitat rumput teki pasca panen padi. Capung gajah jantan terbang kesana kemari menarik perhatian lawan jenisnya. Sesekali terlihat anak-anak kecil, berusaha menangkap capung dengan lidi yang ujungnya telah diberi getah dari buah nangka.

Para pencari ikan mulai berdatangan ke kambang (sejenis kolam alami) yang terletak di tengah sawah besar. Di musim kemarau banyak ikan yang keliyengan (mabuk) karena temperatur di desa Pinang Merah yang kelewat panas. Ada yang sibuk menjala ikan dengan jaring. Ada yang langsung menceburkan diri ke kambang ikan, lalu menangkap ikan dengan serokan (sejenis saringan terbuat dari anyaman bambu). Ada juga yang nekad merogo (menangkap ikan dengan tangan) di dasar atau di tepi kambang yang penuh lumpur hitam lumer lagi dingin. Semua orang tampak bersemangat panen ikan, tak risau dengan cuaca panas yang cepat sekali mengundang rasa dahaga.

Dari kejauhan terlihat seorang ibu muda gaya parlente dengan gincu tebal warna merah merekah di bibirnya. Memakai blus biru muda berbalut blazer hitam dan menjinjing tas chanel sebelah kiri. Langkahnya tertatih karena memakai sepatu jinjit yang bergesekan dengan rumput mengguning di sepanjang jalan menuju sawah besar. Dari kejauhan suara besarnya terdengar menggema seantero kambang ikan memanggil anak semata wayangnya yang ikut mencari ikan.

"Mail, kemano kau nih Mail? Ebok nyariin kau dari tadi. Ya Allah Mail. Mail?" (Mail, kemana kau nih Mail. Ibu nyari kau dari tadi. Ya Allah Mail. Mail?) Teriak ibu Marpuah yang terkenal cerewet se-desa Pinang Merah.

Yang dipanggil belum kelihatan batang hidungnya. Mungkin masih asyik merogo ikan.

"Mang Kemas! Kau jingok anak semata wayang aku dak? Ai dah. Meluatke nian dio tuh," (Paman Kemas! Kau lihat anak semata wayang aku tak? Aduh. Sebal sekali aku dengan dia)

"Dak jingok aku Puah. Kaw pulok, punyo anak tuh dijagoin, bila perlu kau iket kakinyo," (Tidak lihat aku Puah. Kau sih, punya anak harus dijaga, bila perlu kau ikat kakinya) canda mang Kemas yang diikuti tawa banyak orang di kambang ikan.

"Kau kiro anak aku nih kambing, diiket makek tali," (kau kira anak aku seperti kambing, diikat dengan tali) ibu Puah membalas.

"Oy maaf Puah, aku nih cuma pernesan," (Maaf Puah, aku hanya bercanda) mang Kemas senyum lebar, gigi gerahamnya kelihatan.

"Oh yo dak papo mang. Aku tahu kalo wong desa nih besak kelakar. Kalo kau jingok anak aku, omongke dengan dio baleklah sekarang. Bapaknyo nunggu di rumah," (Oh ya tidak apa paman. Aku tahu kalau orang desa ini sering bercanda. Kalau kau lihat anak aku, bilang dengannya pulanglah sekarang. Bapaknya nunggu di rumah)

"Iyo Puah tenang bae. Dak usah risau kau tuh" (Iya Puah, tenang saja. Tidak usah risau) mang Kemas membalas.

***
Ibu Puah lalu berjalan meninggalkan kambang ikan. Jalannya masih tertatih, sepatu jinjitnya masih tak seimbang menapaki rumput menguning sepanjang jalan. Terik matahari masih panas. Ibu Puah semakin jauh dari pandangan. Dibalik pohon pinang di sebelah kambang, terdengar bisikan anak kecil berumur 10 tahun memanggil mang Kemas.

"Mang Kemas, masih ado dak ebok aku?" (Paman Kemas, masih ada tidak ibu aku?) Anak kecil yang berbisik itu tak lain tak bukan adalah Mail, anak ibu Puah.

"Katek lagi Mail. Cepetlah ke sini turun. Banyak ikan gabus yang keliyengan nah," (Tidak ada lagi Mail. Cepat ke sini turun. Banyak ikan gabus yang mabuk nah)

"Iyo-iyo mang, tunggu!" (Iya-iya mang, tunggu!)

"Burrr," terdengar suara Mail menceburkan dirinya ke kambang ikan. Mail melanjutkan merogo ikan.

"Mang, aku dapet ikan gabus besak nian nah, (Paman, aku dapat ikan gabus besar sekali)" Mail tampak gembira.

"Mano Mail? Cubo aku liat (Mana Mail? Coba aku lihat)?"

"Nih," Mail menunjukan ikan yang dia dapat.

"Ya Allah Mail, itu ulo tudung sawah, mati kau di cetoknyo agek," (Ya Allah Mail itu ular tudung sawah, meninggal kau di patuknya nanti)

Belum sempat Mail melepaskan, seketika ular yang dikiranya ikan gabus tadi membelit tangan Mail, lalu mematok tangannya sebelah kanan.

"Ya Allah mang tolong mang, sakit nian nah!" (Ya Allang paman tolong paman, sakit sekali)

***
Penasaran dengan cerita selanjutnya?

Rabu, 08 Oktober 2014

Penghancur Tembok

Novel: Penghancur Tembok
Karya: Heru Prasetio


Libur panjang bagi beberapa anak mungkin hal yang sangat luar biasa dan menyenangkan. Terutama anak-anak yang tinggal di tengah kota Learsi, mereka biasanya ke taman kota, tempat karaoke, dunia bermain dengan wahana-wahana ekstrim, atau pun mancing di danau belakang kantor walikota. Keadaan ini berbanding terbalik dengan anak-anak yang tinggal di balik 'tembok pembatas'. Tak ada waktu bermain, tak ada waktu sia-sia, tak ada hal yang tak berguna, mereka semua sibuk mengangkut kotoran-kotoran hewan peliharaan maupun dari peternakan untuk dijadikan pupuk kandang. Keadaan anak-anak di balik tembok pembatas berbeda jauh dari anak-anak di kota Learsi. Waktu libur mereka dihabiskan untuk bekerja di pembuangan kotoran hewan. Mengubah kotoran hewan menjadi pupuk kandang kemudian diambil kembali oleh petani di kota Learsi. Upah mereka tak sebanding dengan pekerjaan yang bisa dibilang menjijikan dan hina bagi warga Learsi, tapi tidak untuk mereka, suku Egaz, karena inilah cara mereka untuk bertahan hidup.
        Pupuk yang telah jadi dimasukan kembali ke dalam truk pengangkut, sesuai dengan bobot pupuk yang mereka buat, misal 1 kg pupuk, maka 1 Sero uang yang mereka terima. 1 Sero hanya dapat ditukar dengan 1 cangkir air minum mineral. Bayangkan berapa banyak pupuk kandang yang harus mereka buat dalam sehari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi kaum Egaz, bau kotoran hewan yang datang adalah bau uang untuk menyambung hidup mereka.
        Suku Egaz menukarkan uang tersebut di mesin makanan otomatis yang menempel di sepanjang tembok pembatas sebelah barat, ibarat pasar modern nan canggih di tengah keadaan yang memperhatinkan di balik tembok pembatas.
        Baju-baju lusuh dengan bau tak sedap, bercampur keringat, serta terik matahari membakar kulit adalah hal yang biasa bagi mereka. Anak-anak suku Egaz, itulah sebutan mereka dengan usia 6 sampai 12 tahun, bermata biru, badan kurus dan mereka mengenakan gelang metalik di tangan sebelah kanan. Ada simbol '€' di tengah gelang.
        Wilayah suku Egaz di kelilingi tembok pembatas dengan tinggi lima meter, terbuat dari baja yang kuat, dan dialiri arus listrik di puncak tembok. Tembok pembatas hanya dapat terbuka ketika truk-truk kotoran hewan datang dengan muatan bertonase. Selain itu, tembok pembatas juga dapat terbuka ketika pagi dan siang hari yakni ketika anak dari suku Egaz pergi dan pulang menuntut ilmu di sekolah keterampilan kota Learsi yang letaknya 100 meter dari tembok sebelah barat. Selebihnya Tembok pemisah tertutup kembali. Apabila suku Egaz keluar bukan pada waktu tertentu,, maka gelang yang mereka pakai akan terasa panas bagai api yang membara dan dapat memutuskan urat nadi mereka. Sungguh penindasan diluar akal sehat yang terus ditutupi oleh pemerintahan kota Learsi. Ini semua dilakukan agar suku Egaz tidak melakukan pemberontakan terhadap dewan kota. Bagaimana cara suku Egza keluar dari kezaliman pemerintahan kota Learsi?


Penasaran? Baca di Novel pertama saya yang berjudul Penghancur Tembok!

Rabu, 28 Mei 2014

Buku Antologi Cerpen dan Puisi 'Ampera Membisu'


Sekilas Tentang Buku Antalogi Cerpen dan Puisi Ampera Membisu

Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) yang membelah sungai musi dan menyatukan Seberang Ulu dan Seberang Ilir kota Palembang, minggu sore di awal bulan Maret macet parah. Bukan karena proyek pembangunan jalan fly over simpang pamor di daerah Seberang Ulu, bukan juga karena kecelakaan lalu lintas atau pun kendaraan yang mogok di sepanjang ruas jalan dari atau menuju jembatan kebanggaan warga Palembang ini.
Kabar terakhir menyatakan, bahwa akan ada percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh seorang gadis belia berusia 22 tahun. Gadis tersebut bukan meloncat bunuh diri dari pagar jembatan Ampera, melainkan dari sisi selatan menara jembatan Ampera yang sedang dilakukan pengecatan berkala. Terdapat rangkaian besi membentuk kerangka tangga mengelilingi menara selatan dari bawah hingga atas, memudahkan gadis tersebut memanjat hingga mencapai puncak menara.
Penasaran dengan cerita selanjutnya?


Di dalam antalogi ini terdapat 17 cerpen dan 8 puisi karya Heru Prasetio. Dengan ragam dan latar cerita yang berbeda-beda, konflik yang dihadirkan sangat menarik dan membuat pembaca berpikir kritis serta memberikan banyak inspirasi. Uniknya, semua karya penulis ini dibuat dan diketik dengan HP BlackBerry miliknya dalam tajuk Ampera Membisu.




Judul: Ampera Membisu
Jenis : Antologi cerpen dan puisi
Penulis : Heru Prasetio
Penerbit : StoryPucino Publisher
Harga : Rp45.000
Hal: 252

Buku ini berisi kumpulan cerpen dan puisi yang kebanyakan berlatarkan Kota Palembang, Bangka, Jambi, Batam, Singapura, Kuala Lumpur, Seoul, dll.

Dengan ragam dan latar cerita yang berbeda-beda, konflik yang dihadirkan sangat menarik dan membuat pembaca berpikir kritis serta memberikan banyak inspirasi. Uniknya, semua karya penulis ini dibuat dan diketik dengan HP BlackBerry miliknya dalam tajuk Ampera Membisu.

Cara pemesanan:
*Untuk wilayah Palembang, inbox saya atau SMS ke 08974141578 dengan format: Nama_Alamat_Jumlah buku yang dipesan (Palembang bebas ongkir plus tanda tangan)

*Untuk wilayah Luar Palembang
(harga belum termasuk ongkir)

Terimakasih sebelumnya, Barakallah!