Karya: Heru Prasetio
"Pelangi-pelangi alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru, pelukis mu agung, siapa gerangan, pelangi-pelangi ciptaan tuhan"
Senja berbuih, gerimis tak kunjung henti dan Gery masih menyanyikan lagu pelangi berulang kali. Tatapan matanya kosong memandang keluar jalan besar dari jendela kaca berembun dengan tetesan air hujan yang menempel. Semenjak kejadian itu, Gery trauma berat, dia didiaknosa mengalami gangguan mental.
***
Minggu Pagi diawal bulan februari 2011, gerimis membungkus kota, keluarga pak Wisnu kedatangan tetangga baru. Sepasang suami istri dengan usia pernikahan yang telah menginjak lima tahun. Mereka belum dikaruniai anak. Suami bekerja sebagai karyawan swasta sedangkan Istri bekerja sebagai guru TK. Rumah yang mereka sewa tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Semua jendela terbuat dari kaca tebal yang berlindung dibalik terali besi dengan motif bunga matahari.
***
"Ih, lucu sekali ini anak, nama kamu siapa sayang? Istri tetangga mencubit pipi Gery.
"Gery tante, namaku Gery, nama tante siapa? Nama Oom siapa?"
"Nama Saya tante Vila adik kecil," Jawab sang stri, lalu mencubit kembali pipi Gery.
"Kalo nama saya, Om Agung," jawab suami.
"Anaknya pintar yah mas?"
"Iya, pintar, lucu, ganteng, imut dan sopan lagi. Andai kita punya anak. Pasti seumuran dengan Gery," ata Om Agung.
"Gak usah dibahas itu mas. Aku capek, aku menyerah, aku salah, aku bodoh, aku gak becus jadi istri. Mungkin tuhan menyuruh kita sabar mas," nada tante Vila terdengar sedih, bibirnya cemberut dan muka menekuk berusaha tegar dengan semua ini.
"Sudah-sudah jangan ribut di rumah saya," Tegur pak Wisnu.
"Ayo, diminum tehnya dik Vila dan dik Agung. Dicicipi pisang gorengnya" sahut bu Risha, istri pak Wisnu.
"Eh, maaf pak Wisnu, bu Risha kami ga bermaksud ribut di sini," tante Vila berusaha menjelaskan.
"Iya, sekali lagi kami mohon maaf," pinta om Agung.
"Iya, iya. Kami paham, suatu saat kalian pasti akan dikaruniai anak juga. Percayalah, tuhan maha baik," pak wisnu berusaha menenangkan mereka.
Setelah perbincangan yang penuh basa-basi, tante Vila dan om Agung pulang ke rumah kontrakannya, menyusun rencana ke depan agar mereka bisa mendapatkan momongan
***
Hampir sebulan mereka mengontrak, sama sekali tidak ada hal yang mencurigakan dari mereka. Semua berjalan dengan biasa-biasa saja. Tante Vila mengajar, om Agung bekerja dan Gery naik kelas TK nol besar.
Hal yang paling menyenangkan bagi tante Vila adalah dapat bertemu anak-anak setiap hari. Walaupun mereka bukan darah dagingnnya, tapi tante Vila sangat menyayangi mereka semua. Tante Vila kini mengajar di TK Pelangi. Kebetulan Gery juga sekolah TK nol besar di sana. Tante Vila sangat baik kepada Gery. Waktu pergi dan pulang sekolah Tante Vila selalu mengajak Gery untuk ikut naik mobilnya dan orang tua Gery pun tidak keberatan.
***
"Gery senang sekali dengan tante, beliin Gery mainan, robot-robotan, bola, ngajari nyanyi lagu Pelangi-Pelangi, bolak-balik sekolah selalu bareng tante, Gery sayang tante Vila," spontan Gery memeluk tante Vila.
"Tante Vila juga senang nak, saya sudah seperti Ibumu. Sayang juga Gery, malaikat kecil tante," tangan Tante Vila mencubit gemas hidung mancung Gery.
"Tante, Gery mau tante nyanyi lagu pelangi-pelangi dong buat Gery. Kan pas banget gitu suasananya lagi hujan gerimis, aku selalu melihat pelangi setelah gerimis reda di sore hari," Gery berceloteh lagi.
Hujan gerimis reda, pelangi muncul di kaki langit sebelah tenggara. Lagu Pelangi-pelangi mulai mereka nyanyikan.
***
Bersambung
"Pelangi-pelangi alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru, pelukis mu agung, siapa gerangan, pelangi-pelangi ciptaan tuhan"
Senja berbuih, gerimis tak kunjung henti dan Gery masih menyanyikan lagu pelangi berulang kali. Tatapan matanya kosong memandang keluar jalan besar dari jendela kaca berembun dengan tetesan air hujan yang menempel. Semenjak kejadian itu, Gery trauma berat, dia didiaknosa mengalami gangguan mental.
***
Minggu Pagi diawal bulan februari 2011, gerimis membungkus kota, keluarga pak Wisnu kedatangan tetangga baru. Sepasang suami istri dengan usia pernikahan yang telah menginjak lima tahun. Mereka belum dikaruniai anak. Suami bekerja sebagai karyawan swasta sedangkan Istri bekerja sebagai guru TK. Rumah yang mereka sewa tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Semua jendela terbuat dari kaca tebal yang berlindung dibalik terali besi dengan motif bunga matahari.
***
"Ih, lucu sekali ini anak, nama kamu siapa sayang? Istri tetangga mencubit pipi Gery.
"Gery tante, namaku Gery, nama tante siapa? Nama Oom siapa?"
"Nama Saya tante Vila adik kecil," Jawab sang stri, lalu mencubit kembali pipi Gery.
"Kalo nama saya, Om Agung," jawab suami.
"Anaknya pintar yah mas?"
"Iya, pintar, lucu, ganteng, imut dan sopan lagi. Andai kita punya anak. Pasti seumuran dengan Gery," ata Om Agung.
"Gak usah dibahas itu mas. Aku capek, aku menyerah, aku salah, aku bodoh, aku gak becus jadi istri. Mungkin tuhan menyuruh kita sabar mas," nada tante Vila terdengar sedih, bibirnya cemberut dan muka menekuk berusaha tegar dengan semua ini.
"Sudah-sudah jangan ribut di rumah saya," Tegur pak Wisnu.
"Ayo, diminum tehnya dik Vila dan dik Agung. Dicicipi pisang gorengnya" sahut bu Risha, istri pak Wisnu.
"Eh, maaf pak Wisnu, bu Risha kami ga bermaksud ribut di sini," tante Vila berusaha menjelaskan.
"Iya, sekali lagi kami mohon maaf," pinta om Agung.
"Iya, iya. Kami paham, suatu saat kalian pasti akan dikaruniai anak juga. Percayalah, tuhan maha baik," pak wisnu berusaha menenangkan mereka.
Setelah perbincangan yang penuh basa-basi, tante Vila dan om Agung pulang ke rumah kontrakannya, menyusun rencana ke depan agar mereka bisa mendapatkan momongan
***
Hampir sebulan mereka mengontrak, sama sekali tidak ada hal yang mencurigakan dari mereka. Semua berjalan dengan biasa-biasa saja. Tante Vila mengajar, om Agung bekerja dan Gery naik kelas TK nol besar.
Hal yang paling menyenangkan bagi tante Vila adalah dapat bertemu anak-anak setiap hari. Walaupun mereka bukan darah dagingnnya, tapi tante Vila sangat menyayangi mereka semua. Tante Vila kini mengajar di TK Pelangi. Kebetulan Gery juga sekolah TK nol besar di sana. Tante Vila sangat baik kepada Gery. Waktu pergi dan pulang sekolah Tante Vila selalu mengajak Gery untuk ikut naik mobilnya dan orang tua Gery pun tidak keberatan.
***
"Gery senang sekali dengan tante, beliin Gery mainan, robot-robotan, bola, ngajari nyanyi lagu Pelangi-Pelangi, bolak-balik sekolah selalu bareng tante, Gery sayang tante Vila," spontan Gery memeluk tante Vila.
"Tante Vila juga senang nak, saya sudah seperti Ibumu. Sayang juga Gery, malaikat kecil tante," tangan Tante Vila mencubit gemas hidung mancung Gery.
"Tante, Gery mau tante nyanyi lagu pelangi-pelangi dong buat Gery. Kan pas banget gitu suasananya lagi hujan gerimis, aku selalu melihat pelangi setelah gerimis reda di sore hari," Gery berceloteh lagi.
Hujan gerimis reda, pelangi muncul di kaki langit sebelah tenggara. Lagu Pelangi-pelangi mulai mereka nyanyikan.
***
Bersambung
