Karya: Heru Prasetio
Aku berdiri tegar di atas bukit Ampang. Mendengarkan lantunan lagu dari penyanyi-penyanyi tanah kelahiran di negeri orang. Sumber lagu berasal dari tape radio yang diputar berulang di kedai-kedai makanan di pinggir jalan bukit Ampang dengan pemandangan malam kota Kuala Lumpur dari ketinggian. Aku pasrah. Aku lelah. Aku menyerah. Aku bodoh. Aku selalu berharap dia ada di sisiku. Menemani hari-hari yang indah bersamanya. Merajut cinta kasih dengan benang-benang asmara tanpa ada garis yang membatasi.
Masih di sini, aku masih setia memandangi hutan beton ibu kota negeri jiran. Menyelami kisah klise antara aku dan dia. Berusaha mengubur setiap kenangan yang ada. Tapi apa lacur, bayang-bayangnya selalu muncul membuka tabir peristiwa masa lalu.
***
Dua tahun yang lalu di Kuala Lumpur Center, aku bertemu dengannya. Dia jauh-jauh dari Nilai menjemputku. Aku sangat ingin berjumpa dengannya. Meskipun dulu cinta kami sebatas dunia maya. Cinta layar kaca yang berubah menjadi layar nyata. Kami berjabat tangan. Senyum manis membingkai wajahnya saat pertama kali kami jumpa. Wajahnya persis dengan foto yang sering ku lihat di media sosial.
"Hallo Zaky, apa kabar? Lama tak awak menungguku?"
"Ga apa-apa Zahra, hampir se-jam sih," aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Jom ikut aku, kita ke mesin ticket LRT,"
"Okay Zahra, dengan senang hati," aku berusaha memberikan senyum terbaikku untuknya.
Zahra sangat baik. Dia mengajariku untuk membeli token LRT di mesin token. Tangan halusnya memanduku untuk memilih jalur dari KL Center ke University Malaysia. Token LRT yang bentuknya mirip uang logam warna biru dari bahan plastik keluar dari mesin. Kami melanjutkan perjalanan. Aku sangat terkesima dengan kemajuan kota Kuala Lumpur. Sistem Transportasinya terintegrasi sempurna antara satu dengan lainnya. Mulai dari LRT, KRL, Bus, Monorel, dan Train, semua bertemu dan transit di KL Center. Wajar saja wisata di Kuala Lumpur maju. Para pelancong tak perlu risau untuk berpergian dengan transportasi umum selama berada di kota ini. Murah, nyaman dan menyatukan semua tempat wisata.
"Zaky, mau ke KLCC dulu tak?" Lamunanku dikejutkan suara Zahra.
"Mau ra, aku juga ingin tengok Petronas,"
Sebelum ke University, kami menyempatkan diri untuk ke KLCC. Di KLCC terdapat icon negara ini, Menara Kembar Petronas. Aku sangat takjub dengan kemegahan dan keindahan salah satu menara tertinggi di dunia ini. Bentuknya mirip atau mungkin diadaptasi dari candi Prambanan. Entahlah. Setelah puas keliling dan berfoto serta menyaksikan pertunjukan air mancur di KLCC, kami kembali naik LRT menuju University Malaysia.
"Thank's banget Zahra udah menemaniku sepanjang hari ini,"
"Sama-sama Zaky, bila waktu mengizinkan kita boleh pusing-pusing Kuala Lumpur balik,"
***
Aku masih memandangi kota Kuala Lumpur dari ketinggian. Bulan purnama bulat sempurna menggantung di atas langit.
*bersambung*
Aku berdiri tegar di atas bukit Ampang. Mendengarkan lantunan lagu dari penyanyi-penyanyi tanah kelahiran di negeri orang. Sumber lagu berasal dari tape radio yang diputar berulang di kedai-kedai makanan di pinggir jalan bukit Ampang dengan pemandangan malam kota Kuala Lumpur dari ketinggian. Aku pasrah. Aku lelah. Aku menyerah. Aku bodoh. Aku selalu berharap dia ada di sisiku. Menemani hari-hari yang indah bersamanya. Merajut cinta kasih dengan benang-benang asmara tanpa ada garis yang membatasi.
Masih di sini, aku masih setia memandangi hutan beton ibu kota negeri jiran. Menyelami kisah klise antara aku dan dia. Berusaha mengubur setiap kenangan yang ada. Tapi apa lacur, bayang-bayangnya selalu muncul membuka tabir peristiwa masa lalu.
***
Dua tahun yang lalu di Kuala Lumpur Center, aku bertemu dengannya. Dia jauh-jauh dari Nilai menjemputku. Aku sangat ingin berjumpa dengannya. Meskipun dulu cinta kami sebatas dunia maya. Cinta layar kaca yang berubah menjadi layar nyata. Kami berjabat tangan. Senyum manis membingkai wajahnya saat pertama kali kami jumpa. Wajahnya persis dengan foto yang sering ku lihat di media sosial.
"Hallo Zaky, apa kabar? Lama tak awak menungguku?"
"Ga apa-apa Zahra, hampir se-jam sih," aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Jom ikut aku, kita ke mesin ticket LRT,"
"Okay Zahra, dengan senang hati," aku berusaha memberikan senyum terbaikku untuknya.
Zahra sangat baik. Dia mengajariku untuk membeli token LRT di mesin token. Tangan halusnya memanduku untuk memilih jalur dari KL Center ke University Malaysia. Token LRT yang bentuknya mirip uang logam warna biru dari bahan plastik keluar dari mesin. Kami melanjutkan perjalanan. Aku sangat terkesima dengan kemajuan kota Kuala Lumpur. Sistem Transportasinya terintegrasi sempurna antara satu dengan lainnya. Mulai dari LRT, KRL, Bus, Monorel, dan Train, semua bertemu dan transit di KL Center. Wajar saja wisata di Kuala Lumpur maju. Para pelancong tak perlu risau untuk berpergian dengan transportasi umum selama berada di kota ini. Murah, nyaman dan menyatukan semua tempat wisata.
"Zaky, mau ke KLCC dulu tak?" Lamunanku dikejutkan suara Zahra.
"Mau ra, aku juga ingin tengok Petronas,"
Sebelum ke University, kami menyempatkan diri untuk ke KLCC. Di KLCC terdapat icon negara ini, Menara Kembar Petronas. Aku sangat takjub dengan kemegahan dan keindahan salah satu menara tertinggi di dunia ini. Bentuknya mirip atau mungkin diadaptasi dari candi Prambanan. Entahlah. Setelah puas keliling dan berfoto serta menyaksikan pertunjukan air mancur di KLCC, kami kembali naik LRT menuju University Malaysia.
"Thank's banget Zahra udah menemaniku sepanjang hari ini,"
"Sama-sama Zaky, bila waktu mengizinkan kita boleh pusing-pusing Kuala Lumpur balik,"
***
Aku masih memandangi kota Kuala Lumpur dari ketinggian. Bulan purnama bulat sempurna menggantung di atas langit.
*bersambung*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar