Rabu, 08 Oktober 2014

Penghancur Tembok

Novel: Penghancur Tembok
Karya: Heru Prasetio


Libur panjang bagi beberapa anak mungkin hal yang sangat luar biasa dan menyenangkan. Terutama anak-anak yang tinggal di tengah kota Learsi, mereka biasanya ke taman kota, tempat karaoke, dunia bermain dengan wahana-wahana ekstrim, atau pun mancing di danau belakang kantor walikota. Keadaan ini berbanding terbalik dengan anak-anak yang tinggal di balik 'tembok pembatas'. Tak ada waktu bermain, tak ada waktu sia-sia, tak ada hal yang tak berguna, mereka semua sibuk mengangkut kotoran-kotoran hewan peliharaan maupun dari peternakan untuk dijadikan pupuk kandang. Keadaan anak-anak di balik tembok pembatas berbeda jauh dari anak-anak di kota Learsi. Waktu libur mereka dihabiskan untuk bekerja di pembuangan kotoran hewan. Mengubah kotoran hewan menjadi pupuk kandang kemudian diambil kembali oleh petani di kota Learsi. Upah mereka tak sebanding dengan pekerjaan yang bisa dibilang menjijikan dan hina bagi warga Learsi, tapi tidak untuk mereka, suku Egaz, karena inilah cara mereka untuk bertahan hidup.
        Pupuk yang telah jadi dimasukan kembali ke dalam truk pengangkut, sesuai dengan bobot pupuk yang mereka buat, misal 1 kg pupuk, maka 1 Sero uang yang mereka terima. 1 Sero hanya dapat ditukar dengan 1 cangkir air minum mineral. Bayangkan berapa banyak pupuk kandang yang harus mereka buat dalam sehari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi kaum Egaz, bau kotoran hewan yang datang adalah bau uang untuk menyambung hidup mereka.
        Suku Egaz menukarkan uang tersebut di mesin makanan otomatis yang menempel di sepanjang tembok pembatas sebelah barat, ibarat pasar modern nan canggih di tengah keadaan yang memperhatinkan di balik tembok pembatas.
        Baju-baju lusuh dengan bau tak sedap, bercampur keringat, serta terik matahari membakar kulit adalah hal yang biasa bagi mereka. Anak-anak suku Egaz, itulah sebutan mereka dengan usia 6 sampai 12 tahun, bermata biru, badan kurus dan mereka mengenakan gelang metalik di tangan sebelah kanan. Ada simbol '€' di tengah gelang.
        Wilayah suku Egaz di kelilingi tembok pembatas dengan tinggi lima meter, terbuat dari baja yang kuat, dan dialiri arus listrik di puncak tembok. Tembok pembatas hanya dapat terbuka ketika truk-truk kotoran hewan datang dengan muatan bertonase. Selain itu, tembok pembatas juga dapat terbuka ketika pagi dan siang hari yakni ketika anak dari suku Egaz pergi dan pulang menuntut ilmu di sekolah keterampilan kota Learsi yang letaknya 100 meter dari tembok sebelah barat. Selebihnya Tembok pemisah tertutup kembali. Apabila suku Egaz keluar bukan pada waktu tertentu,, maka gelang yang mereka pakai akan terasa panas bagai api yang membara dan dapat memutuskan urat nadi mereka. Sungguh penindasan diluar akal sehat yang terus ditutupi oleh pemerintahan kota Learsi. Ini semua dilakukan agar suku Egaz tidak melakukan pemberontakan terhadap dewan kota. Bagaimana cara suku Egza keluar dari kezaliman pemerintahan kota Learsi?


Penasaran? Baca di Novel pertama saya yang berjudul Penghancur Tembok!

2 komentar:

  1. Mirip2 hunger game e..hhe
    Ditunggu kelanjutannyo..

    BalasHapus
  2. Penasaran kak? Tunggu cerita selanjutnya di Novel Penghancur Tembok ;D

    BalasHapus