Karya: Heru Prasetio
Musim kemarau memasuki puncaknya. Rumput-rumput terlihat menguning di sepanjang jalan menuju sawah besar. Silau kuning matahari seakan membakar kulit. Keringat peluh pencari ikan mulai bercucuran, membasahi baju partai lusuh bekas kongsi pemilu dua bulan lalu. Rawa-rawa kini berisikan lumpur hitam lunak lagi lumer bercampur dengan air sawah yang kini menjadi habitat rumput teki pasca panen padi. Capung gajah jantan terbang kesana kemari menarik perhatian lawan jenisnya. Sesekali terlihat anak-anak kecil, berusaha menangkap capung dengan lidi yang ujungnya telah diberi getah dari buah nangka.
Para pencari ikan mulai berdatangan ke kambang (sejenis kolam alami) yang terletak di tengah sawah besar. Di musim kemarau banyak ikan yang keliyengan (mabuk) karena temperatur di desa Pinang Merah yang kelewat panas. Ada yang sibuk menjala ikan dengan jaring. Ada yang langsung menceburkan diri ke kambang ikan, lalu menangkap ikan dengan serokan (sejenis saringan terbuat dari anyaman bambu). Ada juga yang nekad merogo (menangkap ikan dengan tangan) di dasar atau di tepi kambang yang penuh lumpur hitam lumer lagi dingin. Semua orang tampak bersemangat panen ikan, tak risau dengan cuaca panas yang cepat sekali mengundang rasa dahaga.
Dari kejauhan terlihat seorang ibu muda gaya parlente dengan gincu tebal warna merah merekah di bibirnya. Memakai blus biru muda berbalut blazer hitam dan menjinjing tas chanel sebelah kiri. Langkahnya tertatih karena memakai sepatu jinjit yang bergesekan dengan rumput mengguning di sepanjang jalan menuju sawah besar. Dari kejauhan suara besarnya terdengar menggema seantero kambang ikan memanggil anak semata wayangnya yang ikut mencari ikan.
"Mail, kemano kau nih Mail? Ebok nyariin kau dari tadi. Ya Allah Mail. Mail?" (Mail, kemana kau nih Mail. Ibu nyari kau dari tadi. Ya Allah Mail. Mail?) Teriak ibu Marpuah yang terkenal cerewet se-desa Pinang Merah.
Yang dipanggil belum kelihatan batang hidungnya. Mungkin masih asyik merogo ikan.
"Mang Kemas! Kau jingok anak semata wayang aku dak? Ai dah. Meluatke nian dio tuh," (Paman Kemas! Kau lihat anak semata wayang aku tak? Aduh. Sebal sekali aku dengan dia)
"Dak jingok aku Puah. Kaw pulok, punyo anak tuh dijagoin, bila perlu kau iket kakinyo," (Tidak lihat aku Puah. Kau sih, punya anak harus dijaga, bila perlu kau ikat kakinya) canda mang Kemas yang diikuti tawa banyak orang di kambang ikan.
"Kau kiro anak aku nih kambing, diiket makek tali," (kau kira anak aku seperti kambing, diikat dengan tali) ibu Puah membalas.
"Oy maaf Puah, aku nih cuma pernesan," (Maaf Puah, aku hanya bercanda) mang Kemas senyum lebar, gigi gerahamnya kelihatan.
"Oh yo dak papo mang. Aku tahu kalo wong desa nih besak kelakar. Kalo kau jingok anak aku, omongke dengan dio baleklah sekarang. Bapaknyo nunggu di rumah," (Oh ya tidak apa paman. Aku tahu kalau orang desa ini sering bercanda. Kalau kau lihat anak aku, bilang dengannya pulanglah sekarang. Bapaknya nunggu di rumah)
"Iyo Puah tenang bae. Dak usah risau kau tuh" (Iya Puah, tenang saja. Tidak usah risau) mang Kemas membalas.
***
Ibu Puah lalu berjalan meninggalkan kambang ikan. Jalannya masih tertatih, sepatu jinjitnya masih tak seimbang menapaki rumput menguning sepanjang jalan. Terik matahari masih panas. Ibu Puah semakin jauh dari pandangan. Dibalik pohon pinang di sebelah kambang, terdengar bisikan anak kecil berumur 10 tahun memanggil mang Kemas.
"Mang Kemas, masih ado dak ebok aku?" (Paman Kemas, masih ada tidak ibu aku?) Anak kecil yang berbisik itu tak lain tak bukan adalah Mail, anak ibu Puah.
"Katek lagi Mail. Cepetlah ke sini turun. Banyak ikan gabus yang keliyengan nah," (Tidak ada lagi Mail. Cepat ke sini turun. Banyak ikan gabus yang mabuk nah)
"Iyo-iyo mang, tunggu!" (Iya-iya mang, tunggu!)
"Burrr," terdengar suara Mail menceburkan dirinya ke kambang ikan. Mail melanjutkan merogo ikan.
"Mang, aku dapet ikan gabus besak nian nah, (Paman, aku dapat ikan gabus besar sekali)" Mail tampak gembira.
"Mano Mail? Cubo aku liat (Mana Mail? Coba aku lihat)?"
"Nih," Mail menunjukan ikan yang dia dapat.
"Ya Allah Mail, itu ulo tudung sawah, mati kau di cetoknyo agek," (Ya Allah Mail itu ular tudung sawah, meninggal kau di patuknya nanti)
Belum sempat Mail melepaskan, seketika ular yang dikiranya ikan gabus tadi membelit tangan Mail, lalu mematok tangannya sebelah kanan.
"Ya Allah mang tolong mang, sakit nian nah!" (Ya Allang paman tolong paman, sakit sekali)
***
Penasaran dengan cerita selanjutnya?
Musim kemarau memasuki puncaknya. Rumput-rumput terlihat menguning di sepanjang jalan menuju sawah besar. Silau kuning matahari seakan membakar kulit. Keringat peluh pencari ikan mulai bercucuran, membasahi baju partai lusuh bekas kongsi pemilu dua bulan lalu. Rawa-rawa kini berisikan lumpur hitam lunak lagi lumer bercampur dengan air sawah yang kini menjadi habitat rumput teki pasca panen padi. Capung gajah jantan terbang kesana kemari menarik perhatian lawan jenisnya. Sesekali terlihat anak-anak kecil, berusaha menangkap capung dengan lidi yang ujungnya telah diberi getah dari buah nangka.
Para pencari ikan mulai berdatangan ke kambang (sejenis kolam alami) yang terletak di tengah sawah besar. Di musim kemarau banyak ikan yang keliyengan (mabuk) karena temperatur di desa Pinang Merah yang kelewat panas. Ada yang sibuk menjala ikan dengan jaring. Ada yang langsung menceburkan diri ke kambang ikan, lalu menangkap ikan dengan serokan (sejenis saringan terbuat dari anyaman bambu). Ada juga yang nekad merogo (menangkap ikan dengan tangan) di dasar atau di tepi kambang yang penuh lumpur hitam lumer lagi dingin. Semua orang tampak bersemangat panen ikan, tak risau dengan cuaca panas yang cepat sekali mengundang rasa dahaga.
Dari kejauhan terlihat seorang ibu muda gaya parlente dengan gincu tebal warna merah merekah di bibirnya. Memakai blus biru muda berbalut blazer hitam dan menjinjing tas chanel sebelah kiri. Langkahnya tertatih karena memakai sepatu jinjit yang bergesekan dengan rumput mengguning di sepanjang jalan menuju sawah besar. Dari kejauhan suara besarnya terdengar menggema seantero kambang ikan memanggil anak semata wayangnya yang ikut mencari ikan.
"Mail, kemano kau nih Mail? Ebok nyariin kau dari tadi. Ya Allah Mail. Mail?" (Mail, kemana kau nih Mail. Ibu nyari kau dari tadi. Ya Allah Mail. Mail?) Teriak ibu Marpuah yang terkenal cerewet se-desa Pinang Merah.
Yang dipanggil belum kelihatan batang hidungnya. Mungkin masih asyik merogo ikan.
"Mang Kemas! Kau jingok anak semata wayang aku dak? Ai dah. Meluatke nian dio tuh," (Paman Kemas! Kau lihat anak semata wayang aku tak? Aduh. Sebal sekali aku dengan dia)
"Dak jingok aku Puah. Kaw pulok, punyo anak tuh dijagoin, bila perlu kau iket kakinyo," (Tidak lihat aku Puah. Kau sih, punya anak harus dijaga, bila perlu kau ikat kakinya) canda mang Kemas yang diikuti tawa banyak orang di kambang ikan.
"Kau kiro anak aku nih kambing, diiket makek tali," (kau kira anak aku seperti kambing, diikat dengan tali) ibu Puah membalas.
"Oy maaf Puah, aku nih cuma pernesan," (Maaf Puah, aku hanya bercanda) mang Kemas senyum lebar, gigi gerahamnya kelihatan.
"Oh yo dak papo mang. Aku tahu kalo wong desa nih besak kelakar. Kalo kau jingok anak aku, omongke dengan dio baleklah sekarang. Bapaknyo nunggu di rumah," (Oh ya tidak apa paman. Aku tahu kalau orang desa ini sering bercanda. Kalau kau lihat anak aku, bilang dengannya pulanglah sekarang. Bapaknya nunggu di rumah)
"Iyo Puah tenang bae. Dak usah risau kau tuh" (Iya Puah, tenang saja. Tidak usah risau) mang Kemas membalas.
***
Ibu Puah lalu berjalan meninggalkan kambang ikan. Jalannya masih tertatih, sepatu jinjitnya masih tak seimbang menapaki rumput menguning sepanjang jalan. Terik matahari masih panas. Ibu Puah semakin jauh dari pandangan. Dibalik pohon pinang di sebelah kambang, terdengar bisikan anak kecil berumur 10 tahun memanggil mang Kemas.
"Mang Kemas, masih ado dak ebok aku?" (Paman Kemas, masih ada tidak ibu aku?) Anak kecil yang berbisik itu tak lain tak bukan adalah Mail, anak ibu Puah.
"Katek lagi Mail. Cepetlah ke sini turun. Banyak ikan gabus yang keliyengan nah," (Tidak ada lagi Mail. Cepat ke sini turun. Banyak ikan gabus yang mabuk nah)
"Iyo-iyo mang, tunggu!" (Iya-iya mang, tunggu!)
"Burrr," terdengar suara Mail menceburkan dirinya ke kambang ikan. Mail melanjutkan merogo ikan.
"Mang, aku dapet ikan gabus besak nian nah, (Paman, aku dapat ikan gabus besar sekali)" Mail tampak gembira.
"Mano Mail? Cubo aku liat (Mana Mail? Coba aku lihat)?"
"Nih," Mail menunjukan ikan yang dia dapat.
"Ya Allah Mail, itu ulo tudung sawah, mati kau di cetoknyo agek," (Ya Allah Mail itu ular tudung sawah, meninggal kau di patuknya nanti)
Belum sempat Mail melepaskan, seketika ular yang dikiranya ikan gabus tadi membelit tangan Mail, lalu mematok tangannya sebelah kanan.
"Ya Allah mang tolong mang, sakit nian nah!" (Ya Allang paman tolong paman, sakit sekali)
***
Penasaran dengan cerita selanjutnya?
mang mano lanjutannyo?
BalasHapus